Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati . // Selamat dan Sukses Atas diraihnya Akreditasi "B" BAN-PT Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PATI. // Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1439 H / 2018 M. Mohon Maaf Lahir dan Bathin

KESETARAAN GENDER DALAM PANDANGAN ISLAM ( 1 )

Oleh Ika Oktavianti, M.Pd

Dosen dan Peneliti pada Pusat Studi Gender STAI Pati

Ketika kita berbicara masalah gender, kesan yang melekat adalah tentang perempuan dan masalah ketidakadilan perempuan. Padahal sebenarnya gender tidak hanya berbicara tentang perempan saja, tetapi membicarakan suatu konsep yang mengacu pada pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Oleh karena itu, gender bukan hanya berbicara masalah yang dihadapi perempuan, melainkan juga masalah yang dihadapi masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan.

Kalaupun selama ini pembicaraan mengenai gender terkesan berbicara perempuan dengan segala aspek yang dihadapinya itu, karena perempuanlah yang sering mengalami kekerasan dan ketidakadilan disegala aspek kehidupan baik di keluarga, di bidang hukum, politik, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesehatan, dan lainnya. Perempuan selama ini tertinggal dari laki-laki, sehingga mengalami kesenjangan. Apalagi dengan adanya stereotipe yang melekat tentang pembangian peran dalam masyarakat, dimana peran publik dimainkan oleh laki-laki dan peran domestik adalah peran perempuan. Konstruksi sosial tersebut seolah dianggap kodrat yang melahirkan pembagian peran produktif, reproduktif, dan peran kemasyarakatan yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.

Masyarakat cenderung beranggapan bahwa pembedaan atau pembagian kerja secara seksual adalah sesuatu yang alamiah. Stereotipe yang dianggap kodrat telah melahirkan ketidakadilan gender bagi perempuan dan laki-laki. Akibatnya, lahir pembagian kerja secara seksual. Laki-laki mendapat porsi yang lebih menguntungkan daripada perempuan. Konsep pembakuan peran gender yang mengotak-kotakkan peran laki-laki atau suami dan perempuan atau istri ini hanya memungkinkan perempuan berperan di wilayah domestik yakni sebagai pengurus rumah tangga sementara laki-laki di wilayah publik sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama.

Kesenjangan yang terjadi dialami oleh perempuan seringkali dikaitkan dengan  budaya dan agama yang dianut oleh masyarakat. Kentalnya budaya patriarki yang menganggap kaum perempuan bersifat memelihara, rajin dan cocok menjadi kepala rumah tangga, sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa dan disebut bersifat maskulin sehingga cocok di peran publik, berakibat perempuan didominasikan bekerja di sektor domestik dan untuk beraktivitas di sektor publik, perempuan menunggu keputusan keluarga.

Budaya patriarki yang melekat dalam masyarakat juga masih terkait dengan kepercayaan dan agama yang dianut. Seringkali agama dianggap biang masalah atas pelanggengan ketidakadilan gender. Hal itu disebabkan karena adanya implementasi yang salah dari ajaran agama tersebut yang yang dipengaruhi faktor sejarah, lingkungan budaya dan tradisi yang patriarkat didalam masyarakat, sehingga menimbulkan ketimpangan gender tersebut.

Tafsir ajaran agama yang bias gender mengenai keunggulan kaum lelaki dan melemahkan kaum perempuan, seperti  keyakinan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, sehingga perempuan dianggap sebagai mahluk kedua yang tidak akan mungkin ada tanpa kehadiran laki-laki, karenanya keberadaan perempuan hanya sebagai pelengkap dan diciptakan hanya untuk tunduk di bawah kekuasaan laki-laki. Selain itu, keyakinan bahwa perempuan sebagai sumber dari terusirnya manusia (laki-laki) dari surga, sehingga perempuan dipandang dengan rasa benci, curiga dan jijik, bahkan lebih jauh lagi perempuan dianggap sebagai sumber malapetaka.

Bukan hanya itu saja penyebab terjadinya bias gender, banyak sejarawan mengungkap bahwa pada zaman jahiliyah kedudukan perempuan dalam masyarakat sangatlah rendah posisinya dan buruk kondisinya, serta dianggap tidak lebih berharga dari suatu komoditas. Misalnya, ketika seorang suami meninggal dunia, saudara tua laki laki atau saudara laki-laki lainnya mendapat warisan untuk memiliki jandanya. Pada masa itu juga terdapat hakikat perkawinan yang posesif sifatnya dimana tidak membatasi berapa jumlah perempuan yang boleh dinikahi oleh laki-laki.

Seorang penulis Muslim, Sheikh Nefzawi bahkan menjelaskan tipe ideal kaum perempuan yang justru tidak melemahkan posisi perempuan, dimana perempuan ideal adalah: perempuan yang jarang bicara atau ketawa. Dia tidak pernah meninggalkan rumah, walaupun untuk menjenguk tetangganya atau sahabatnya. Ia tidak memiliki teman perempuan, dan tidak percaya terhadap siapa saja kecuali kepada suaminya. Dia tidak menerima apapun dari orang lain kecuali dari suami dan orang tuanya. Jika dia bertemu dengan sanak keluarganya, dia tidak mencampuri urusan mereka. Dia harus membantu segala urusan suaminya, tidak boleh menuntut ataupun bersedih. Ia tidak boleh tertawa selagi suaminya bersedih, dan senantiasa menghiburnya. Dia menyerahkan diri hanya kepada suaminya, meskipun jika katrol akan membunuhnya. Perempuan seperti itu adalah yang dihormati oleh semua orang.