Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati . // Selamat dan Sukses Atas diraihnya Akreditasi "B" BAN-PT Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PATI

KESETARAAN GENDER DALAM PANDANGAN ISLAM (2)

Oleh Ika Oktavianti, M.Pd

Dosen dan Peneliti pada Pusat Studi Gender STAI Pati

Dalam Al Qur’an tidak satupun surat yang membedakan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, seperti yang tertulis dalam Q.S. Al-Hujurat [49]: 13 yang berbunyi “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Lebih jauh lagi, Islam datang dengan membawa revolusi untuk mengeliminasi diskriminasi kaum Jahiliyah atas perempuan dengan pemberian hak warisan, menegaskan persamaan status dan hak dengan laki-laki, pelarangan nikah tanpa jaminan hukum bagi perempuan dan mengeluarkan aturan pernikahan yang mengangkat derajat perempuan masa itu dan perceraian yang manusiawi.

Islam mengajarkan umatnya untuk memperhatikan toleransi dan keadilan terhadap sesama yang dianjurkan lewat ajaran Ukuwah Islamiah, maka konsep gender dalam Islam mengatur kesetaraan gender dimana perempuan dan laki-laki sama-sama menikmati status, kondisi, atau kedudukan yang setara, sehingga terwujud secara penuh hak-hak dan potensinya bagi pembangunan di segala aspek kehidupan berkeluarga, berbangsa dan bernegara. Konsep kesetaraan gender tersebut tercantum dalam Q.S. an-Nahl [16]: 90) yang menyebutkan: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

Diantara 114 surat dalam Al Qur’an menerangkan beberapa dalil tentang kesetaraan gender, diantaranya surat Al-Isra ayat 70 yang menerangkan bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia yaitu laki-laki dan perempuan dalam bentuk yang terbaik dengan kedudukan yang paling terhormat; Surat Ar-rum ayat 21, surat An-nisa ayat 1, surat Hujurat ayat 13 yang pada intinya berisi bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia berpasang-pasangan yaitu lelaki dan perempuan, supaya mereka hidup tenang dan tentram, agar saling mencintai dan menyayangi serta kasih mengasihi, agar lahir dan menyebar banyak laki-laki dan perempuan serta agar mereka saling mengenal; Surat Ali-Imran ayat 195, surat An-nisa ayat 124, surat An-nahl ayat 97, surat Ataubah ayat 71-72, surat Al-ahzab ayat 35 yang memuat bahwa Allah SWT secara khusus menunjuk baik kepada perempuan maupun lelaki untuk menegakkan nilai-nilai islam dengan beriman, bertaqwa dan beramal. Allah SWT juga memberikan peran dan tanggung jawab yang sama antara lelaki dan perempuan dalam menjalankan kehidupan spiritualnya, dan memberikan sanksi yang sama terhadap perempuan dan lelaki untuk semua kesalahan yang dilakukannya; Q.S. Ali Imran:195, Q.S.an-Nisa:124 dan Q.S.an-Nahl:97 yang mengisyaratkan konsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual,  baik dalam bidang spiritual maupun karier profesional, tidak mesti didominasi oleh satu jenis kelamin saja; dan masih banyak ayat-ayat lain yang sebenarnya bertujuan untuk melindungi kaum perempuan dari ketidakadilan dan keterbelakangan.

Meskipun prinsip ajaran Islam mengajarkan persamaan  hak antara kaum dan kaum wanita, namun dalam kenyataannya harus dikatakan bahwa perwujudan prinsip ideal tersebut membutuhkan kurun waktu (dalam ukuran abad) yang relative amat panjang dan proses yang berat melawan tantangan kuat yang muncul dari zaman ke zaman. Orang terpaksa mengakui kenyataan bahwa hidup di antara umat beragama dari agama-agama besar, dimana perempuan praktis belum diberi kedudukan dan peranan keagamaan yang sama tingginya dengan kaum pria. Namun yang perlu kita ingat, pada dasarnya inti ajaran agama khususnya Islam dalam hal ini menganjurkan dan menegakkan prinsip keadilan dimana kedudukan dan derajat antara lelaki dan perempuan dimata Allah SWT adalah sama.

Al-quran tidak mengenal pembedaan antara lelaki dan perempuan karena dihadapan Allah SWT, lelaki dan perempuan mempunyai derajat dan kedudukan yang sama, dan yang membedakan antara lelaki dan perempuan hanyalah dari segi biologisnya. Oleh karena itu pandangan-pandangan yang menyudutkan posisi perempuan sudah selayaknya diubah, karena Al Qur’an selalu menyerukan keadilan. Kebenaran pepatah Jawa yang berbunyi “swarga nunut, neraka katut” yang dikenakan kepada perempuan umumnya, dewasa ini tidak dapat sepenuhnya berlaku pada sebagian besar perempuan, karena yang membuat seseorang ditempatkan di surga atau neraka didasarkan pada keimanan dan ketaqwaannya