Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati . // Selamat dan Sukses Atas diraihnya Akreditasi "B" BAN-PT Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PATI. // Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1439 H / 2018 M. Mohon Maaf Lahir dan Bathin

KEMERDEKAAN BAGI PEREMPUAN DAN ANAK-ANAK

Oleh: Aida Husna, MA

Dosen dan Peneliti pada Pusat Studi Gender STAI Pati

Peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke-65 kali ini mungkin agak terasa berbeda karena bertepatan dengan tanggal 7 Ramadan 1431 H. Yaitu bulan yang penuh rahmat dan penuh ampunan. Bulan di mana umat muslim di seluruh dunia ditempa baik secara lahir maupun batin untuk menjadi insan kamil atau manusia yang sempurna. Peringatan hari Kemerdekaan RI tahun ini juga semakin terasa spesial karena Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta juga terjadi dalam suasana puasa Ramadan, tepatnya hari Jum’at, 9 Ramadan 1364 H.

Kemerdekaan pada dasarnya merupakan kondisi di mana sebuah bangsa mempunyai kontrol penuh atas seluruh wilayahnya tanpa campur tangan bangsa lain. Orang yang mempunyai kemerdekaan bisa diartikan bahwa dia mempunyai hak atas dirinya sendiri, tanpa campur tangan orang lain, dan tidak bergantung pada orang lain. Hak ini telah diakui secara universal, sehingga segala bentuk perbudakan dan penindasan pasti ditentang oleh segala bangsa.

Kemerdekaan yang diperoleh oleh bangsa Indonesia sendiri tidak  diperoleh dengan cuma-cuma dari kaum penjajah. Kemerdekaan ini diperoleh dengan pengorbanan selama 3,5 abad oleh seluruh elemen bangsa, termasuk di dalamnya kaum perempuan dan anak-anak. Kita tentu mengenal pahlawan-pahlawan perempuan kita, seperti misalnya Cut Nyak Din, Cut Meutia, Christina Marta Tiahahu, Nyi Ageng Serang, dan lain sebagainya, yang telah mengorbankan jiwa mereka untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Anak-anak pun terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, di mana kita mengenal adanya Tentara Pelajar Indonesia.

Setelah sekian lama kemerdekaan diraih oleh bangsa Indonesia, apakah seluruh kaum perempuan dan anak-anak Indonesia sudah menikmati kemerdekaannya? Mungkin sebagian dari mereka sudah bisa menikmati kemerdekaan ini. Misalnya diantara mereka bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi, serta kehidupan yang layak.

Namun, jika kita lihat secara seksama, ternyata masih banyak kaum perempuan dan anak-anak yang belum bisa menikmati kemerdekaanya. Seperti akhir-akhir ini, media banyak memberitakan tentang human trafficking atau perdagangan manusia. Ironisnya, kaum perempuan dan anak-anaklah yang rentan menjadi korban perdagangan manusia ini. Human trafficking ini tidak sekedar memperjualbelikan manusia layaknya memperjualbelikan barang dagangan. Tapi lebih dari itu, perdagangan manusia meliputi perekrutan, pengangkutan, pemindahtanganan, penampungan atau penerimaan orang, dengan menggunakan ancaman, kekerasan maupun bentuk pemaksaan lainnya, seperti penculikan, pemalsuan, penipuan, atau penyalahgunaan kekuasaan, yang bertujuan untuk mendapatkan kendali terhadap orang lain, untuk kepentingan eksploitasi.

Eksploitasi ini tidak hanya mencakup eksploitasi seksual untuk prostitusi saja, tapi bisa juga dalam bentuk eksplotasi ekonomi seperti kerja paksa dan perbudakan di sektor informal, termasuk kerja domestik seperti pembantu rumah tangga, atau menjadi istri simpanan. Selain itu, perdagangan manusia juga bisa berbentuk pengambilan organ-organ tubuh untuk kepentingan medis untuk transplantasi untuk orang kaya yang membutuhkan.

Yang lebih ironis lagi, banyak pelaku dari perdagangan perempuan dan anak-anak adalah orang tua atau suaminya sendiri. Tidak sedikit kaum perempuan yang dijual oleh orang tua atau suaminya sendiri untuk industri seks baik di dalam maupun di luar negeri, atau untuk kawin kontrak. Juga tak kalah marak dalam pemberitaan di media, yaitu tentang para orang tua yang tega menjual anaknya sendiri, bahkan ketika masih bayi, untuk diadopsi.

Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan sistem perbudakan yang nyata-nyata telah ditentang oleh seluruh bangsa di dunia. Tentu bukan keadaan seperti inilah yang dicita-citakan oleh para pejuang kemerdekaan kita. Lebih-lebih, ini juga bertentangan dengan ajaran Islam, karena Islam datang di abad ke-7 Masehi dengan semangat “pembebasan”. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pembebasan para budak secara bertahap melalui syari’ahnya. Kaum perempuan pun mulai diberi penghargaan, misalnya perempuan mempunyai hak waris atas harta peninggalan, tidak lagi dianggap sebagai harta warisan yang bisa diwariskan ke anak turun. Selain itu, pembunuhan terhadap anak perempuan yang menjadi tradisi yang bersifat patriakal pun segera dihapuskan dari bangsa Quraisy.

Yang menjadi pernyataan adalah, apakah kita akan melanggengkan sistem perbudakan dalam versi baru ini? Tentu tidak! Maka, pada peringatan hari Kemerdekaan RI yang ke-65, yang juga bertepatan dengan bulan puasa Ramadan 1431 H ini, marilah kita jadikan sebagai momentum untuk membebaskan kaum perempuan dan anak-anak dari segala bentuk kekerasan dan penindasan.