Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati . // Selamat dan Sukses Atas diraihnya Akreditasi "B" BAN-PT Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PATI. // Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1439 H / 2018 M. Mohon Maaf Lahir dan Bathin

ZAKAT MELATIH JIWA SOSIAL

Oleh : Sinar, M.Ag

Dosen Bimbingan dan Konseling STAI Pati

Islam telah mengajarkan kepada umatnya agar menyisihkan sebagian hartanya untuk fakir miskin. Hal ini dilakukan melalui dua cara yang pertama shodaqoh dan zakat. Berkaitan dengan kegiatan ramadlan, salah satu amal zakat yang harus dikeluarkan oleh umat islam (mampu) adalah zakat fitrah (QS. Al Baqarah; 277). Dibalik mengeluarkan zakat ini memiliki beberapa pengajaran yang dapat kita ambil manfaatnya. Dengan zakat seseorang akan lebih meningkatkan syukur nikmat bahwa dirinya memiliki harta lebih dibanding dengan fakir miskin di lingkungan sekitar kita. Selain itu dengan zakat berarti kita telah menegakkan salah satu landasan  Islam. Nabi bersabda; Islam itu ditegakkan di atas 5 dasar; (1) bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah, dan bahwasannya Nabi Muhammad itu utusan Allah, (2) mendirikan salat lima waktu, (3) membayar zakat, (4) mengerjakan ibadah haji ke Baitullah, (5) berpuasa dalam bulan ramadlan. (HR. Mutafaq ‘alaih). Oleh karena itu pengajaran yang diperoleh dari zakat adalah memupuk jiwa sosial, dan membentengi diri dari sifat kikir dan bakhil. Jika hal itu dibiarkan, maka bisa jadi amal ibadah kita tidak sempurna, dan nerakalah yang diperolehnya. Karena kesempurnaan ibadah itu salah satunya harus dilengkapi dengan menyantuni kaum zuafa’ yang dilakukan melalui amalan zakat. Nabi bersabda; seseorang yang menyimpan hartanya, tidak dikeluarkan zakatnya, akan dibakar dalam neraka jahanam, baginya dibuatkan setrika dari api, kemudian disetrikakan ke lambung dan dahinya…. (HR. Ahmad dan Muslim).  

Adapun yang berhak menerima zakat menurut QS At Taubah; 60, terdiri dari fakir, miskin, amil zakat, muallaf, memerdekakan budak, orang yang banyak hutang untuk jalan Allah, dan musafir. Jika kita cermati dari kelompok tersebut, kebanyakan berada dalam golongan fakir miskin (tidak memiliki harta yang cukup) sehingga perlu memperoleh perhatian dari orang yang lebih kaya. Keabsahan berzakat sebenarnya tidak dibatasi kaya atau miskin, tetapi kesadaran seseorang untuk mengeluarkan zakat itulah yang teramat penting. Terlebih lagi di zaman sekarang dan di lingkungan kita, sulit ditemui kriteria miskin yang benar-benar tidak mampu makan setiap hari. Tetapi panitia zakat umumnya memperkirakan bahwa di wilayahnya orang yang tergolong miskin adalah orang yang memiliki penghasilan rendah, (penghasilannya mendekati batas minimal hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari saja). sedangkan kewajiban zakat diharuskan kepada mereka yang memiliki kelebihan bahan makanan yang cukup sampai malam 1 syawal. Tetapi kenyataannya banyak orang yang merasa miskin jika disuruh zakat, walaupun mereka memiliki rumah, penghasilan cukup, hanya merasa kurang saja, dan tergolong orang yang kurang bersyukur. Dari sisi inilah kita sebagai orang islam tidak waktunya lagi mempertentangkan kriteria apa yang menjadikan patokan seseorang wajib mengeluarkan zakat, tetapi penanaman kesadaran untuk berzakat itulah yang harus diutamakan dan dipupuk dalam jiwa kita, agar kita tidak selalu terjangkiti sifat kikir dan rakus. Sebab hanya dengan zakat dan salat yang ikhlaslah yang akan dihargai Allah dengan derajat kemenangan (QS. Al A’laa; 14-15). Apalagi jika melihat pendapat Hasby Ash Shidieqy bahwa barang siapa mengingkari kefardluan zakat, maka ia menjadi kafir.

Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik dari amalan zakat ini;

  1. Meningkatkan iman. Dengan zakat, harta menjadi bersih, dan telah halal jika kita makan bahkan akan bertambah barokahnya.
  2. Melatih diri untuk menjauhi sifat kikir. Kikir merupakan penyakit hati yang akan menggerogoti iman kita. Cara menghindarinya ialah dengan menyadari bahwa semua harta yang kita miliki pada hakekatnya dari Allah, dan kita memanfaatkannya harus di jalan Allah pula.
  3. Melatih diri untuk dekat dengan kaum dzu’afa’. Artinya kita yang telah diberi harta lebih banyak dari mereka yang miskin, semestinya harus menyadari bahwa kekayaan kita bukan untuk kita sendiri, tetapi sebagian untuk si miskin. Salah satu jalan agar harta kita sampai kepada si miskin, dilakukan dengan cara berzakat. Karena ketika menyampaikan zakat, secara langsung akan berhadapan dengan si miskin. Dan kita bisa melihat dan merasakan bagaimana pahitnya penderitaan yang dialami oleh si miskin dalam berjuang melawan kondisi hidup yang serba susah.
  4. Melatih diri untuk tidak sombong, bahkan memupuk diri untuk selalu berjiwa sosial. Dari sinilah kita dapat hidup berdampingan di masyarat yang bermacam-macam tingkat ekonominya, ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Sehingga dengan kegiatan zakat ini mereka yang miskin akan merasa terbantu kehidupannya walaupun sesaat, sedangkan si kaya akan merasa bahwa ternyata dalam hidup ini tidaklah sendirian, tetapi harus bersama dengan masyarakat lingkungannya, yang harus dipupuk dengan sifat saling membantu dan saling menghargai satu dengan yang lainnya.