Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati . // Selamat dan Sukses Atas diraihnya Akreditasi "B" BAN-PT Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PATI. // Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1439 H / 2018 M. Mohon Maaf Lahir dan Bathin

AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR

Mohammad Dzofir, M.Ag

Pengurus Yayasan Pendidikan Islam Pati

Bulan Ramadhan yang penuh dengan limpahan berkah dan rahmat dan maghfiroh ternyata belum cukup untuk menjadi momentum perubahan bagi perilaku manusia. Meskipun setan yang dianggap sebagai biang keladi perilaku jahat manusia telah dirantai dan dipenjara oleh Allah swt, namun perilaku manusia tetap dikuasai dengan nafsu syaithoniyyah. Berbagai bentuk penyimpangan sosial, kemaksiyatan, kemungkaran hingga tindak kriminal dengan mudah masih kita jumpai di bulan Ramadhan.

Kondisi masyarakat yang demikian diperparah dengan kurangnya kepekaan dan kepedulian masyarakat dan pemerintah terhadap berbagai kemaksiatan dan kemunkaran yang terjadi. Dengan kewenangan yang dimiliknya, sebenarnya tidak sulit bagi pemerintah untuk menjaga moralitas masyarakat, mencegah dan memberantas segala bentuk kemaksiatan dan kemunkaran. Namun kenyataannya beberapa kebijakan pemerintah justru memicu kemerosotan moralitas masyarakat. Menjamurnya kemaksiatan berselubung kafe dan karaoke di hampir seluruh daerah di wilayah karesidenan Pati, misalnya, adalah salah satu bukti tidak adanya kepedulian pemerintah atas moralitas masyarakat.

Dalam konteks diatas, umat Islam tidak boleh diam dan membiarkan kemaksiatan dan kemungkaran terjadi di sekitarnya. Al-Alamah as-Sa’di mengingatkan bahwa sikap mendiamkan terhadap kemunkaran akan menumbuhkan keberanian bagi orang yang gemar melakukan maksiat untuk semakin berani melakukan maksiat, bahkan secara terang-terangan. Tidak hanya itu membiarkan kemaksiatan boleh jadi akan menyebabkan kemaksiatan menjadi sesuatu yang bagus dalam pandangan masyarakat luas, sehingga sebagian masyarakat akan menirunya, karena menganggapnya sebagai sesuatu yang bagus.

Dengan demikian pembiaran atas kemaksiatan dan kemunkaran akan berdampak pada kerusakan dan kehancuran tatanan kehidupan masyarakat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori, Rasulullah Saw. Bersabda : Perumpamaan kaum yang menjaga batas (hukum-hukum) Allah seperti kaum yang berundi di atas kapal, sebagian dapat tempat di atas dan sebagian dapat di bawah.  Orang-orang yang di bawah ketika memerlukan air akan melewati (melangkahi) orang yang ada di atas, maka (orang yang di bawah tadi) mengatakan kalau kapal ini saya lubangi saja, maka hal ini tidak akan menyulitkan/mengganggu orang yang ada di atas.  Maka apabila semua orang yang ada di kapal tadi membiarkan dan tidak mengambil tindakan tenggelamlah seluruh penumpang di kapal itu dan apabila mereka menegur dan mengambil tindakan maka selamatlah semuanya.

Karena itu menjadi kewajiban bagi setiap muslim sebagai bagian dari sesama saudara muslim untuk senantiasa saling mengingatkan, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran (amar ma’ruf nahi munkar), sebagaimana perintah Allah dalam QS.Ali Imron 104:   "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran: 104).

Berdasarkan ayat di atas, sebagai seorang Muslim kita sudah sepatutnya tidak hanya memikirkan kebaikan atau kesholehan diri sendiri, tetapi juga berupaya mewujudkan dan menyebarkan kesholihan pada orang lain. Kita dituntut untuk memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap realitas sosial yang terjadi, untuk kemudian mengembangkan sikap amar ma’ruf nahi munkar.

Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam amar makruf nahi munkar, sesuai kapasitas dan kapabilitas yang kita miliki, misalnya melakukan aksi penolakan -baik melalui dialog ataupun demonstrasi- terhadap kebijakan pemkab yang memberi izin pendirian kafe dan karaoke, melakukan kontrol dan pengawasan terhadap penyusunan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD), memberikan dukungan moral kepada aparat penegak hukum untuk bersikap tegas dan adil dalam penegakan hukum, dan sebagainya. Rasulullah saw mengisyaratkan tidak adanya kompromi dan tolerasi terhadap setiap kemungkaran . Beliau secara tegas  memerintahkan kepada  siapapun yang melihat kemungkaran untuk mencegahnya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, sebagaimana sabda Nabi : Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah merubahnya dengan tangannya, bila tidak mampu ubahlah dengan lisannya, bila tidak mampu ubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim)

Mudah-mudahan kita termasuk dalam umat terbaik sebagaimana yang dinyatakan Allah. kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar  (Q.S.Al- Imron : 110). Wallahu a’lam.