Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati . // Selamat dan Sukses Atas diraihnya Akreditasi "B" BAN-PT Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PATI

LAILATUL QADAR, KEUTAMAAN DAN TANDA TANDANYA

B. Fuadi Abdul Jabbar, S.Ag., M.Pd.I

Dosen STAI Pati

AKAN SEGERA HADIR  ditengah-tengah kita waktu yang  dinanti-nantikan oleh  setiap ummat Islam yang menjalankan dan menikmati  indahnya puasa bulan Ramadlan 1431 H ini.  Hari-hari yang tersisa dan sekaligus sudah kita hadapi dalam bulan ini adalah merupakan hari yang teramat mulia, Maka  saatnya kita untuk lebih memusatkan perhatian dengan memfokuskan ibadah kepada Allah SWT karena begitu banyaknya fadlilah / keutamaan yang terkandung pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan  ini apalagi kalau berbarengan dengan malam yang sangat istimewa nan mulia itu   yakni  malam Lailatul qadar yang kita nanti-nantikan

Setiap mukmin yang menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesungguhan tentunya sangat menanti-nantikan  malam lailatul qadar yang hanya hadir sekali / semalam dalam dekade waktu satu tahun itu, karena mereka mengerti nilai dari ibadah yang dikerjakan bertepatan dengan malam itu memiliki nilai yang sama dengan ibadah-ibadah yang dikerjakan selama lebih dari seribu bulan. Dengan demikian dapat dikatakan siapa saja yang menemui lailatul qadar di bulan Ramadlan, sedangkan ia menjalankan ibadah kepada Allah SWT maka ia sebenarnya telah memperoleh pengalaman ruhani yang tak terhingga nilai /  harganya yakni melebihi  dari seribu bulan atau delapan puluh tahun.

Lailatul qadar terdiri dari dua kata yakni lail dan al-qadar lail  yang berarti malam dan al-qadar memiliki beberapa arti,  pertama Al-Qadar berarti penetapan dan pengaturan yakni penetapan Allah bagi perjalanan  hidup manusia.   Pada Lailatul Qadar itu Al-Qur’an diturunkan dan Al-Qur’an adalah sebagai penetapan dan pengaturan bagi hidup manusia.  kedua Al-Qadar diartikan kemuliaan karena didalamnya Al-Qur’an diturunkan dan menjadi titik langkah dari segala  kemuliaan yang dapat diraih manusia, melalui Al-Qur’an kita dapat memperoleh kemuliaan fi addaraini ( dunia akhirat )   Ketiga berarti sempit sebab pada malam itu para malaikat turun berduyun-duyun ke bumi dengan idzin Allah SWT . Jadi ketiga pengertian lailatul qadar diatas semakin mempertegas bahwa malam itu adalah malam penetapan perjalanan sejarah manusia yang penuh kemuliaan dan dimeriahkan dengan turunnya para malaikat ( tidak ada yang dapat mengetahui jumlahnya kecuali Allah SWT ) dan malaikat Jibril ke bumi. Seperti yang difirmankan oleh Allah dalam Q.S Al-Qodar : 4-5.

Keutamaan,

Berkaitan dengan  keutamaan ibadah pada  lailatul qodar yang nilai / harganya melebihi dari ibadah seribu bulan itu adalah sesuai dengan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhori Muslim bahwa pada sepuluh hari yang terakhir dalam bulan Ramadlan Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya sebagai kinayah bahwa Rasulullah benar-benar mempersiapkan diri untuk qiyamullaili / mendirikan ( ibadah malam hari ) , dengan  membangunkan seluruh keluarga beliau  agar bergabung  bersamanya dalam meningkatkan ibadah dengan sholat hajat, tahajjud dan ibadah-ibadah lain yang dijalankan pada malam - malam itu.

Adapun  ibadah-ibadah lain yang perlu kita tingkatkan intensitasnya  antara lain, melakukan iktikaf ,berdzikir, berdoa, bertadarus dan bertadabur atas kandungan Al-Qur’an dan lain sebagainya. Maka dengan melaksanakan ibadah-ibadah tersebut, kita sebenarnya dapat memiliki kesadaran ruhani untuk meningkatkan kepasrahan kita kepada Allah SWT,  Penyerahan atau kepasrahan total ini akan menjadikan hati benar-benar merasakan kebenaran Allah. Dengan  kata lain Lailatul Qodar adalah momen penemuan diri terhadap jalan kebenaran dengan menjalankan serentetan ibadah yang nilai pahalanya melebihi dari ibadah seribu bulan atau delapan puluh tahun

Tanda - Tanda  Terjadinya.

Kita tidak mengetahui secara pasti, malam manakah yang merupakan lailatul qodar di dalam bulan Romadlon. Meskipun menurut ijtihadnya sebagian  ulama’ fuqoha-  menyebutkan bahwa jatuhnya lailatul qodar ada yang mulai awal bulan dan ada yang pada tanggal 17 Ramadlon, namun menurut Jumhurul ulama’ ( sebagian besar ulama’) menemukan isyarat yang disabdakan Rasulullah dalam haditsnya , bahwa lailatul qadar jatuh diantara  hari-hari ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan yaitu mulai dari malam tanggal 21 ( tis’in baqina / Sembilan hari yang tersisa ) atau 23 ( sab’in baqina / tujuh hari yang tersisa ) atau 25 ( khamsin baqina / lima hari yang tersisa ) atau 27 (  tsalatsin baqina / tiga hari yang tersisa )  dan atau 29 (  fi akhiri lailatin tabqa / akhirnya malam ganjil )   

Dan tanda– tandanya  adalah ; “ bahwa malam itu cuaca dalam keadaan  terang (  binatang – binatang pada terkecoh mengiranya malam itu sudah pagi hari ) , tidak panas dan tidak dingin, suasana  tenang / tidak gaduh , dan pada pagi harinya matahari dalam keadaan redup / tidak memancarkan sinar terangnya “.

Maka dengan adanya perbedaan para ulama’ akan datangnya lailatul qadar dan yang memang terkesan agak dirahasiakan oleh Rasulullah SAW itu insyaAllah ada hikmah besar sekali yang terkandung didalamnya bagi kita semua, yaitu semoga  semakin bisa untuk meningkatkan intensitas ibadah kita kepada Allah SWT sepanjang  puasa Ramadlan, karena semakin tinggi tingkatan ibadah kita  semakin tinggi pula ridla dan pahala Allah yang kita dapatkan  dan semakin dekat bagi kita untuk meraih tingkatan taqwa  bagi orang-orang mukmin yang berpuasa. Dan hal itu juga sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya “ Carilah malam lailatul qodar  dalam sepuluh malam terakahir bulan Ramadlan. Dan siapa yang menghabiskan malam lailatul qodar dengan beribadah dengan motif keimanan dan kepasrahan, maka dosanya akan diampunkan “