Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati

ZAKAT, SAATNYA UNTUK BERBAGI

Muntaha Luthfi, MH

Dosen Muamalah STAI Pati

Ramadhan memang bulan yang indah, bulan yang senantiasa mengingatkan kita akan betapa indah Islam itu, betapa elok Alloh membangun sendi-sendi keagamaan bagi kita, kongkretnya dalam 12 bulan selama setahun kita punya satu bulan untuk selalu mereview amal perbuatan kita dibulan-bulan sebelumnya, untuk semakin mendalami sisi-sisi kekurangan dan kesalahan dalam diri kita, sehingga setelah bulan Ramadhan selesai kualitas hidup kita akan semakin bertambah. Kita bisa metamorfosa menjadi insan yang lebih bertanggung jawab terhadap Alloh dengan menciptakan sense of belonging terhadap lingkungan masyarakat sekitar.

Sebelum bulan puasa berakhir, setidaknya kita punya kesan yang mendalam akan pentingnya bulan puasa.  Banyak hikmah dan nilai-nilai filosofis yang dapat kita petik dari ibadah puasa. Diantaranya dapat kita temukan  dari sisi pensyariatan puasa, di mana setiap tahun sekali kita diajak dan dilatih untuk merasakan bagaimana kondisi orang yang haus dan lapar. Sebulan penuh kita dilatih untuk berempati kepada orang yang senantiasa bergelut dengan kesusahan, tidak dapat makan secara teratur dalam kehidupan sehari-harinya.

Melalui puasa Ramadhan selama sebulan penuh, pastilah kita menjadi “paham” bagaimana rasanya hidup dalam kesusahan dan kelaparan. Sebagai tindak lanjutnya  Islam mensyariatkan adanya kewajiban untuk menunaikan zakat, baik fitrah maupun mal, bagi yang mampu. Zakat

kita tetap bisa berbagi selama kita bisa, selama kita mampu, dan selama ada kesempatan. Tidak hanya setahun sekali. Karena mereka yang kurang mampu merasakan kesusahan tidak hanya sebulan sekali dalam satu tahun tapi selama kurun waktu tiap hari, tiap bulan dan selama setahun itu sendiri.  

Bila tujuan filosofis terpenuhi setidaknya membekas dalam benak kita  selayaknya kita  bisa mengaktualisasikan konsep zakat Islam yang lain selain zakat fitrah seperti zakat maal,zakat perniagaan, zakat tanaman dan  buah, dan zakat peternakan dan satu lagi yaitu zakat profesi, bila semua itu teraktualisasaikan tentu tidak ada orang yang kekurangan dalam sebuah daerah. Dalam buku Al-Ausath dan Ash Shaghir, Thabaroni meriwayatkan dari Ali k.w. bahwa Nabi bersabda “Alloh Ta’ala mewajibkan zakat pada harta orang-orang kaya dari kaum muslimin sejumlah yang dapat melapangi orang-orang miskin di antara mereka. Fakir miskin itu tiadalah akan menderita  menghadapi kelaparan dan kesulitan sandang, kecuali karena perbuatan golongan yang kaya. Ingatlah Alloh akan mengadili mereka nanti secara tegas dan menyiksa mereka dengan pedih”.

Terlepas dari ancaman Alloh di atas bila kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang yang tidak mampu, akan menjadikan kita bisa lebih peduli terhadap sesama dengan mengaktualisasikan zakat-zakat yang merupakan kewajiban kita, sehingga kemakmuran tidak hanya milik orang kaya tapi orang tidak mampupun dapat merasakan adanya kemakmuran. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan oleh Alloh untuk mengaktualisasikan hukum-hukum Alloh. Mengakhiri tulisan ini, kiranya patut kita renungkan pendapat Sayid Sabiq bahwasanya, zakat bukanlah merupakan suatu karunia yang diberikan si kaya kepada si miskin, tetapi ia adalah hak atau kewajiban yang dititipkan Alloh kedalam tangan si kaya,agar diberikannya kepada ahlinya dan dibagikannya kepada yang berhak.”