Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati . // Selamat dan Sukses Atas diraihnya Akreditasi "B" BAN-PT Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PATI. // Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1439 H / 2018 M. Mohon Maaf Lahir dan Bathin

MEMBANGUN INDONESIA YANG QUR,ANI

Yusuf Fatoni, M.Ag.

Ketua STAI PAti dan Anggota BHRD Kab. Pati

Allah SWT menurunkan al-Quran di kala manusia sedang mengalami kemerosotan akhlak dan kehancuran persoalan kemanusiaan, politik, ekonomi, sosial juga hukum. Pada setiap persoalan itu, al-Quran meletakkan sentuhannya dengan dasar-dasar yang umum yang dapat dijadikan landasan untuk langkah-langkah manusia selanjutnya yang relevan di setiap zaman. Sejak diturunkannya sampai dengan sekarang al-Quran tidak pernah terlepas dari suatu tradisi yang sedang berjalan. Dengan kata lain, pesan-pesan al-Quran selalu berhubungan dengan pribadi atau masyarakat yang mengganggapnya sakral atau sebagai sentralitas etika universal.

Jika melihat kondisi ummat Islam pada saat al-Quran diturunkan, melalui momentum nuzulul Quran ini, semua peristiwa di masa lalu itu dibangkitkan melalui perenungan. Jadi ada kesamaan konteks antara ketika al-Quran diturunkan pertama kali dan kondisi terkini yang secara sosial, politik, ekonomi dan agama memang sedang mengalami kebobrokan dan membutuhkan pemecahan. Untuk itu, ummat Islam mengemban tugas berat yang berkaitan dengan memahami, mengilhami dan melakukan tanggung jawab, mengingat hal itu merupakan bentuk yang paling mendasar dari keberadaan manusia. Dengan demikian, eksistensi ummat Islam sebagai ummat yang terbaik tidak diragukan. Dengan bantuan ilmu pengetahuan dan agama, peristiwa Nuzulul Quran yang terjadi beberapa abad yang lalu menjadi sesuatu yang berkesinambungan hingga kini. Masa lalu tidaklah usang dan ia menjadi pendahulu masa kini. Maka dari itu, upaya memahami makna nuzulul Quran pada saat sekarang ini sama sekali tidak menghilangkan makna dan konteks terdahulu. Ada semacam harapan yang harus terpenuhi dalam menghadapi tantangan global saat ini sebagaimana Rasulullah juga menghadapi tantangan dan ujian yang berat.

Kita harus selalu berdampingan dengan al-Quran dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan. Persahabatan kita dengan al-Quran yang masih pragmatis dan belum menjadi sesuatu yang harmonis menyulitkan kita menjadikan al-Quran sebagai solusi terhadap problem kehidupan negara.

Sebagai contoh adalah persoalan ekonomi. Asumsi tentang indikator pertumbuhan dipahami dengan meratanya volume perdagangan, padahal pengentasan kemiskinan masih berjalan di tempat dan belum menemukan solusi yang berarti. Dengan aktualisasi nilai-nilai yang terkandung dalam al-Quran, idealnya, persoalan tersebut bisa teratasi selama diiringi dengan kesadaran dan penerapan nilai-nilai tersebut dalam segenap prilaku tiap orang.

Keterlibatan sejumlah pejabat Negara dan juga wakil rakyat dalam beberapa kasus korupsi menunjukkan ketiadaan nilai-nilai al-Quran pada diri sebagian pejabat. Mungkin al-Quran ada pada mereka, tetapi hanya sebatas sebuah buku bacaan yang tidak bisa mewarnai kehidupan mereka. Pejabat dan wakil rakyat yang demikian miskin secara hati nurani sehingga menghasilkan mentalitas koruptor. Konsumerisme dan hedonisme bisa jadi sebagai pemicu mentalitas tersebut. Mereka hanya memikirkan kesenangan diri tanpa memperdulikan klaim negatif dari norma sosial, bahkan sudah tidak mempedulikan Tuhan.

Kesadaran yang mendasar terhadap perisitiwa Nuzulul Quran memberikan akses kepada esensi al-Quran dengan keanekaragaman dimensi dan nilai holisitiknya. Bersamaan dengan itu keraguan tcrhadap al-Quran hilang dan digantikan dengan keyakinan yang teguh setelah melakukan pencerapan dan penghayatan sehingga diharapkan dapat membuka pintu-pintu hidayah sebagai sumber etika dan nilai universal.

Dengan semangat baru, Nuzulul quran menjadi momentum efektif jika Al-Quran dijadikan sebagai solusi problem kehidupan yang memberitahukan tuntutan yang harus dilaksanakannya dalam membangkitkan berbagai nilai yang diinginkan dalam penyucian jiwa.

Melalui Nuzulul Quran ini, mari bersama membangun Indonesia dengan spririt keimanan dan keislaman. Menjadikan akhlak Rasulullah sebagai basis sumber daya manusia. Akhirnya Nuzulul Quran di masa lalu membawa pesan yang sama di masa kini dan akan selalu menjadi landasan struktural yang abadi di masa mendatang. Amin. Wallohu A’lam.