Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati

PENANAMAN NILAI PUASA PADA ANAK

Yusuf Fatoni, M.Ag.

Ketua STAI Pati dan Anggota BHRD Kab. Pati

Secara umum dapat dikatakan bahwa sikap atau kepribadian seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, dan latihan-latihan  yang dilaluinya pada masa kanak-kanak. Seseorang yang pada masa kecilnya  mendapatkan pendidikan, pengalaman, dan latihan-latihan terhadap hal-hal  yang religius, santun dan ringan tangan (suka membantu) terhadap sesama, penuh empatik terhadap kesusahan dan segala permasalahan sosial di lingkungan sekitarnya, maka setelah dewasa nanti, akan merasakan pentingnya nilai-nilai agama di dalam hidupnya (religius), dan berkepribadian.

Lain halnya dengan seseorang yang di masa kecilnya, terutama masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0 - 12 tahun. Seorang anak yang pada masa itu tidak pernah mendapatkan pendidikan agama dan tidak mempunyai  pengalaman terhadap hal-hal yang bersifat sosial, maka setelah dewasa nanti, ia akan cenderung menjadi seseorang yang berkepribadian egois, apatis atau cuek (memiliki pandangan atau sikap negatif) terhadap hal-hal yang bersifat sosial dan agama.

Puasa ramadhan sebagai wahana atau media untuk mendidik kepribadian anak sangat besar pengaruhnya. Pendidikan dan latihan keagamaan anak pada usia dini pada dasarnya sangan penting dan mendasar. Karena keimanan atau keshalihan seseorang setelah dewasa pada dasarnya ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan yang dilakukan pada masa kecilnya dulu. Seseorang yang pada masa kecilnya tidak pernah mendapat didikan tentang agama, maka pada masa dewasanya nanti ia tidak akan merasakan pentingnya beragama. Sebaliknya seseorang yang pada masa kecilnya diberikan pendidikan dan latihan-latihan keagamaan, maka orang tersebut dengan sendirinya akan memiliki kecenderungan hidup sesuai dengan norma-norma agamanya, terbiasa menjalankan ibadah, takut melakukan tindakan yang melanggar aturan agama dan dapat merasakan nikmatnya hidup beragama. Adapun nilai-nilai atau makna yang terkandung  di dalam ibadah puasa antara lain ketaqwaan dan kesederhanaan.

Ketaqwaan. Secara normatif telah disebutkan bahwa dengan puasa diharapkan kita bisa menajdi insan yang bertaqwa. Ketaqwaan di sini lebih dekat dengan makna loyalitas kepada Tuhan. Hal ini mengingat taqwa berarti melaksanakan setiap perintah Alloh dan meninggalkan setiap laranganNYA.

Kepada anak kita tidak sekedar mengajari bagaimana menahan lapar dan dahaga tetapi kita sebagai orang tua berusaha untuk memberikan pengertian dan pemahaman kepada anak mengapa kita rela bersusah payah melakukan hal yang secara lahir tampak menyiksa dan menyengsarakan kita. Dengan begitu anak diharapkan bisa memahami bahwa sebagai makhluk kita harus tunduk dan patuh kepada Alloh sebagai pencipta sekaligus Tuhan kita yang senantiasa memberi kita kebaikan dalam segala aspek kehidupan yang kita jalani.

Puasa ramadhan adalah sikap, perilaku atau amal ibadah yang dibebankan pada setiap muslim yang telah baligh. Kewajiban tersebut adalah menahan segala bentuk dorongan ata menahan segala bentuk  keinginan pemenuhan hal-hal yang ber-sifat biologis (makan, minum, dorongan sex bagi yang sudah berumah tangga) atau menahan nafsu amarah,iri, dengki, dan sikap jelek lainnya sejak imsak sampai saat berbuka puasa. Sebaliknya bagi seseorang yang melanggar aturan tersebut maka akan batallah puasanya (mengurangi nilai pahala puasa).

Makna puasa ramadhan pada dimensi ini adalah melatih dan menanamkan nilai-nilai iman, islam, dan ikhsan sebagai bagian dari aspek ketaqwaan pada anak. Dengan berpuasa anak mulai dilatih sejak usia dini untuk mulai belajar mengamalkan ajaran-ajaran agama (Puasa). Anak dilatih dan diberi pembelajaran tentang apa itu puasa, bagaimana cara berpuasa yang baik, amalan apa yang  sebaiknya dilakukan pada saat puasa, dan bagaimana menjadi seorang hamba yang baik. Dengan kata lain, dengan latiahan puasa ramadhan anak-anak mulai belajar mengenal hukum-hukum Allah. Anak mulai diberi latihan mengamalkan Iman, Isalam, dan Ikhsan sejak usia dini. Di sini peranan kedua orang tua sangat penting dalam melatih dan memberikan  pengarahan tentang amalan-amalan agama pada anak. Karena orang tua merupakan titik pusat kehidupan keagamaan anak dirumah.

 

Puasa mengajarkan Kesederhanaan. Inti dari pengamalan puasa adalah pengendalian diri dari setiap keinginan (nafsu) baik itu yang halal apalagi yang diharamkan. Dengan pemahaman yang benar maka diharapkan kita, baik dalam kondisi berpuasa atau tidak, dapat mengendalikan setiap keinginan kita. Sungguh suatu ironi jika seharian penuh kita bisa mengendalikan diri tetapi begitu waktu maghrib tiba kita penuhi setiap keinginan kita yang tertahan selama satu hari.

Kepada anak mari kita ajarkan makan sahur dan berbuka tidak berbeda dengan hari-hari biasa atau dengan kata lain tidak lebih mewah. Kita penuhi apa yang menjadi kebutuhan kita dan kita kendalikan setiap keinginan kita, karena terkadang tidak setiap keinginan yang ada adalah sebuah kebutuha. Dengan begitu puasa yang kita lakukan menjadi bermakna dan bukan sekedar menahan lapar dan dahaga semata.

Ini hanya sebagian kecil dari nilai puasa yang bisa kita tanamkan pada anak sejak dini. Semoga bermanfaat. Wallohu A’lam.