Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati . // Selamat dan Sukses Atas diraihnya Akreditasi "B" BAN-PT Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PATI

PESAN MORAL IBADAH PUASA 1

Drs. Shodiq Abdullah, M.Ag

Dosen STAI Pati dan IAIN Walisongo Semarang, Tim Asessor BAN PT

Dalam sebuah Hadis diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para Sahabatnya; "Tahukah kalian, siapa orang yang bangkrut itu?" Para Sahabat menjawab; "Menurut kami, orang yang bangkrut adalah orang yang kehilangan hartanya dan seluruh miliknya". "Tidak", demikian Rasulullah menimpali jawaban para Sahabat. Kata Rasulullah selanjutnya; "Yang bangkrut adalah orang yang, pada Hari Kiamat, datang dengan membawa pahala dari puasanya, pahala shalatnya, pahala zakat dan hajinya, tetapi ketika pahala-pahala itu ditimbang dan dihitung, datanglah orang-orang mengadu. Orang pertama mengadu; Ya Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui, dahulu orang itu pernah menuduhku berbuat sesuatu padahal aku tidak pernah melakukannya. Maka, Allah pun menyuruh orang yang diadukan itu untuk menebus dosa tuduhan palsunya itu dengan sebagian pahalanya dan menyerahkannya kepada orang yang mengadu tersebut.

Kemudian, datang orang kedua yang mengadu; Ya Allah Tuhan Yang Maha Adil, dahulu orang itu pernah merampas dan mengambil hakku dengan sewenang-wenang. Maka, Allah pun menyuruh lagi orang yang diadukan itu untuk menebus dosa kesewenang-wenangannya dengan pahala amal salehnya, dan menyerahkannya kepada orang yang mengadu. Dan datang lagi orang yang mengadu, sampai akhirnya seluruh pahala shalat, zakat, haji dan puasanya habis  untuk  menebus dosa orang-orang yang mengadu; yaitu, orang yang pernah disakiti hatinya, orang yang pernah dirampas haknya, dan orang yang pernah dituduh tanpa alasan yang jelas. Semuanya dia bayarkan sampai tidak tersisa lagi pahala amal salehnya. Bahkan, ketika pahala amal salehnya sudah habis, masih juga datang kepadanya orang yang mengadu. Maka, Allah pun kemudian memutuskan agar kejahatan orang yang mengadu dipindahkan kepada orang yang diadukan itu.

Itulah orang yang bangkrut di Hari Kiamat, yaitu orang yang rajin menjalankan ritus-ritus agama, orang yang rajin menunaikan shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa, haji dan ibadah-ibadah lainnya, akan tetapi dia tidak memiliki akhlak yang luhur”, demikian kata Rasulullah SAW. Mereka berhasil membangun hubungan yang baik dengan Tuhan, tetapi gagal membangun hubungan sosial yang baik dengan sesamanya. Itulah orang-orang yang bangkrut.

Dari kisah simbolik tersebut dapat ditarik pelajaran bahwa di dalam setiap ibadah terkandung apa yang kita sebut sebagai "pesan moral". Semua ibadah mahdlah, seperti shalat, zakat, puasa dan haji, yang kita lakukan, disamping memiliki nilai intrinsik, sebenarnya memiliki pesan moral sebagai nilai instrumental-nya. Bahkan, begitu penting dan mulianya pesan moral ini, sampai-sampai Rasulullah SAW menilai suatu ibadah dari sejauhmana kita mampu menjalankan pesan moralnya. Apabila ibadah yang kita lakukan itu tidak meningkatkan kualitas akhlak dan moral kita, maka Rasulullah menganggap bahwa ibadah kita itu sia-sia dan tidak bermakna. Mengapa? Karena diutusnya Rasulullah SAW tidaklah semata-mata hanya untuk mengajarkan do'a, wirid dan dzikir. Secara tegas Rasulullah SAW mengatakan bahwa misinya ialah liutammima makarimal akhlaq, untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Dan oleh karena itu, seluruh ajaran Islam diarahkan untuk menyempurnakan akhlaq; tidak terkecuali ibadah puasa, shalat, qiyamul lail, dan sebagainya, semuanya diarahkan untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Jika demikian, apa yang menjadi pesan moral ibadah puasa yang sedang kita kerjakan ? Setidaknya ada tiga pesan moral yang terkandung dalam ibadah puasa. Pertama, ibadah puasa mendidik kita untuk dapat menahan diri dari berbuat hal-hal yang tidak bermanfaat, menahan diri dari melakukan perbuatan tercela, menahan diri dari melakukan tindakan yang merugikan orang lain atau merugikan masyarakat dan bangsa.

Kedua, ibadah puasa mendidik orang yang melakukannya untuk bersikap jujur dan disiplin. Begitu waktu imsak  tiba, maka kita berhenti memakan segala hidangan sahur  yang ada. Selanjutnya, walaupun tanpa seorang pengawas, sepanjang hari, kita akan tetap menahan diri untuk tidak makan dan minum sebelum waktu berbuka tiba.  Lebih dari itu, ibadah puasa mengajak dan mendidik kita untuk dapat menahan diri dari memakan sembarang makanan, tanpa memperhatikan halal dan haram. Ketiga, ibadah puasa mendidik dan mengajak kita untuk memiliki sikap empati dan perilaku dermawan, mendidik dan menumbuhkan kesadaran hati dan sikap kita untuk memihak dan membantu para fakir, miskin dan anak-anak yatim.

Akhirnya, sudah sepatutnya kita evaluasi ibadah puasa kita; sudah sampai di mana puasa kita ? Sudahkan kita benar-benar berpuasa ? Jangan sampai kita berpuasa tetapi hanya mendapat lapar dan dahaga. 

Drs. Shodiq Abdullah, M.Ag

Dosen STAI Pati dan IAIN Walisongo Semarang, Tim Asessor BAN PT