Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati

PUASA DAN KECERDASAN SPIRITUAL, EMOSIONAL DAN INTELEKTUAL

H. Muslam, M.Ag., M.Pd

Dosen STAI Pati

Bulan Ramadan adalah merupakan bulan yang penuh berkah, dimana di dalamnya terdapat beribu hikmah, fadilah dan rahasia yang dijanjikan oleh Allah bagi mereka yang beriman. Dalam hal ini tidak terlalu berlebihan bila Rasulullah pernah menggabarkan orang yang tahu hikmah puasa ramadlan akan mengharap Ramadan berlangsung setahun penuh.

Kewajiban puasa di bulan Ramadan didasarkan pada QS. Al-Baqarah ayat 183, dimana dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa iman merupakan modal dasar dan bekal primer bagi kaum muslimin untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Disamping itu pula sebenarnya puasa hanya karena Allah, maka kesadaran keimanan harus selalu dihadirkan dalam hati di dalam menunaikannya, sebab tanpa kesadaran keimanan, puasa yang dilaksanakan tak memiliki nilai apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.

Puasa di bulan suci Ramadan merupakan momentum istimewa untuk mengembangkan kesadaran hati, perasaan dan pemikiran sebagai kesadaran tertinggi. Caranya adalah menjadikan puasa sebagai instrumen reformasi spiritual, emosional/perasaan/kepekaan sosial dan pemikiran/intelektual. Terkait dengan ini biasanya puasa hanya dikaitkan pada spiritual saja namun sebenarnya lebih dari itu yaitu disamping kepekaan spiritual juga kepekaan emosional, sosial dan juga kepekaan pikiran atau yang sering disebut dengan kecerdasan spiritual, emosional dan intelektual (SEIQ). Secara epistimologi keagamaan, pendakian SEIQ dalam prosesi ibadah puasa dapat dicapai melalui tiga tahap, adapun tiga tahap ibadah  puasa sebagai proses pendakian SEIQ adalah sebagai berikut: Pertama, puasa orang awam yang sekedar menahan rasa dahaga, lapar dan hubungan seksual. Kedua, puasa orang khusus yang bukan sekedar menahan dahaga, lapar dan hubungan seksual, tetapi juga mampu menahan inderanya dari perbuatan dosa. Ketiga, puasa orang super khusus (khawas al-khawas), selain sanggup menahan keempat hal di atas, ditambah dengan puasa hati nurani. Pada tahap yang ketiga inilah nanti seseorang akan melalui pendakiannya akan berada pada  puncak SEIQ tersebut. Sebab dengan puasa pada tahap yang ketiga kita dapat mengendalikan pikiran, hati dan imajinasi kita dan segala yang menjauhkan kita dari kehadiran Tuhan. Inilah puncak tertinggi pendakian target puasa yang bisa menposisikan seseorang pada keseimabangan kesadaran atau kecerdasan antara spiritual, emosional dan intelektual (SEIQ).  

Namun dalam konteks ini penulis perlu menjelaskan keterkaitan antara Kecerdasan Spiritual (SQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Inteletual (IQ) yang digabung menjadi SEIQ dengan puasa,  adalah berada pada  konteks puasa sejati yatiu puasa  khawas al-khawas atau puasa sejati yaitu puasa hati nurani, yang menjadi instrumen peting untuk mensucikan hati kita, karena dengan mata hati yang suci akan tumbuh kecerdasan spiritual (SQ) dan secara otomatis akan tumbuh pula kecerdasan emosional (EQ) sebagai dampak dari puasa sehingga akan selalu memiliki kepekaan sosial yang berdampak pada prilaku kasih sayang dan merahmati kepada sesamanya terutama pada yang memiliki keterbatasan dan kelemahan-kelemahan,  disamping itu pula dengan kepekaan spiritual tadi akan timbul pula dengan puasa yaitu menyalanya fikiran atau kecerdasan intelektual (IQ) sebagai mana ungkapan ”man jaat batnuhu ’adhumat fikratuhu wa fatuna qalbuhu” barang siapa lapar perutnya, besarlah fikirannya dan cerdiklah jiwanya. Hal ini tumbuh sebab tembusnya penglihatan mata hati (SQ) hai ini sebagai kunci kecerdasan terhadap kecerdasan-kecerdasan lainnya.

Semoga dengan menjalankan ibadah puasa ini kita menjadi insan yang cerdas baik secara spiritual, emosional dan intelektual (SEIQ), amin yarobbal ’alamin.

Wallahu a’lam.