Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati

PUASA DAN KORUPSI

Drs. Mahtub

Dosen STAI Pati

Korupsi...mengapa harus korupsi ? ada apa dengan korupsi ? perlukah korupsi ? bisakah tanpa korupsi ? bagaimanakah menghindari korupsi ?. Puasa... masih adakah korupsi didalam bulan puasa ? masihkah orang berpuasa melakukan korupsi ? mampukah puasa mengendalikan korupsi ? masih layakkah disebut berpuasa kalau masih terus korupsi ?. dan masih banyak lagi tanda tanya yang ada pada benak kita, ketika memasuki Ramadhan yang suci.

Realita kehidupan kita saksikan setiap hari. Bagaimanakah sepak terjang anak manusia mencari dan mencapai yang disebut keberhasilan hidup. Apa yang mereka sebut sukses ? Standar apakah yang mereka pakai ?.

Manusia sekarang ini sedang hidup di tengah kehidupan materialistik dan kapitalistik. Dunia kapitalistik ditandai akumulasi modal atau kepemilikan harta benda yang banyak. Semakin banyak modal maka semakin dianggap sebagai orang kaya atau orang yang berhasil. Ukuran orang disebut sebagai kaya atau berhasil adalah ketika yang bersangkutan memiliki sejumlah kekayaan yang kelihatan di dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah kehidupan yang semakin sekular, maka ukurannya adalah seberapa besar seseorang bisa mengakses kekayaan. Ketika seseorang menempati suatu ruang untuk bisa mengakses kekayaan, maka seseorang akan melakukannya secara maksimal. Banyak orang yang mudah tergoda dengan kekayaan. Karena persepsi tentang kekayaan sebagai ukuran keberhasilan seseorang, maka  seseorang akan mengejar kekayaan itu tanpa memperhitungkan bagaimana kekayaan tersebut diperoleh

Korupsi jalan alternatif yang mudah dan aman 'di dunia jika tidak  ketahuan'. Korupsi adalah karena ketergodaannya akan dunia materi atau kekayaan yang tidak mampu ditahannya. Ketika dorongan untuk menjadi kaya tidak mampu ditahan sementara akses ke arah kekayaan bisa diperoleh melalui cara berkorupsi, maka jadilah seseorang akan melakukan korupsi. Cara pandang terhadap kekayaan yang salah akan menyebabkan cara yang salah dalam mengakses kekayaan. Korupsi dengan demikian kiranya akan terus berlangsung, selama masih terdapat kesalahan tentang cara memandang kekayaan

Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagi tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara dengan menggunakan wewenang dan kekuatan-kekuatan formal (misalnya dengan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri.

Korupsi adalah produk dari sikap hidup satu kelompok masyarakat yang memakai uang sebagai standard kebenaran dan sebagai kekuasaaan mutlak. Sebagai akibatnya, kaum koruptor yang kaya raya dan para politisi korup yang berkelebihan uang bisa masuk ke dalam golongan elit yang berkuasa dan sangat dihormati. Mereka ini juga akan menduduki status sosial yang tinggi dimata masyarakat.

Puasa adalah ibadah yang mengajarkan para pelakunya menahan, mengendalikan, memenjarakan sesuatu yang boleh secara manusiawi, tetapi oleh Allah swt tidak boleh dilakukan kecuali pada waktu yang dibolehkan. Secara syari'at Allah swt hanya memerintahkan kebolehan dan ketidakbolehan itu dibatasi oleh waktu tertentu dan anggota badan tertentu. Tetapi sebenarnya makna intinya adalah taat kepada Allah tidak mengenal waktu atau hanya anggota badan tertentu saja. Kapanpun Allah membolehkan atau tidak membolehkan manusia yang beriman senantiasa sam'ina wa atha'na. Satu kata kunci taat (tunduk) hanya kepada Allah situasi apapun dan seluruh jiwa raga hanya untuk Allah swt.

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah yang memelihara alam semesta. Inilah janji setia yang selalu terucap dan tertancap dalam sanubari. Disadari atau tidak memang begitulah adanya. Janji itu akan dimintakan pertanggungjawabanya.

Ibadah itu syari'at bukti lahir bentuk ketundukan manusia (kehambaan)  sebagai makhluk kepada Khaliq penciptanya. Jika manusia hanya tunduk pada saat tertentu saja atau hanya anggota tertentu saja, sedangkan diluar ibadah yang diwajibkan dia tidak tunduk atau anggota badan lainnya tidak tunduk, maka inilah yang Allah sebut sebagai munafiq atau boleh jadi musyrik.

Banyak kemunafikan yang kita lakukan yang tidak kita rasakan. Sementara kita sering menuduh kreteria munafik hanya tiga berdasarkan petunjuk Nabi saw. Banyak kemusyrikan yang kita kerjakan sementara kita merasa ibadah kita sudah murni (ihlas) hanya untuk Allah.

Ramadlan bulan penuh hikmah. Hanya orang-orang yang menggunakan ulul albabnya yang mampu menangkap hikmah Ramadhan. Ramadhan datang dan pergi berlalu setiap tahun berulang-ulang yang korup tetap korup, yang munafiq tetap munafiq, yang musyrik tetap musyrik.

Banyak orang puasa tetapi tidak puasa. Banyak orang tidak puasa tetapi dia puasa. Kepahaman ibadah kita masih yang formal simbolistik. Belum banyak yang menyentuh pada esensi dan substansi. Kalau Ramadhan bisa difahami dengan arif. Yakinlah yang korup sadar jalan yang ditempuh bukan jalan hidup yang benar. Kemunafikan berubah menjadi kejujuran. Kemusyrikan berubah menjadi monoloyalitas dan dedikasi hanya untuk Allah swt (tauhid). Semoga....