Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati . // Selamat dan Sukses Atas diraihnya Akreditasi "B" BAN-PT Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PATI

PUASA DAN PENDIDIKAN KARAKTER

Sukawi Hasan, S.Ag.,S.H.

Dosen STAI Pati

Momentum Puasa di bulan ramadhan tahun ini adalah sangat tepat dijadikan sebagai bahan renungan bagi warga masyarakat terhadap keberadaan bangsakita ini, sebab selama ini titik berat pemahaman dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan lebih banyak dipandang sebagai pendidikan individual, dan baru kemudian sebagai pembinaan social kemasyarakatan. Padahal, bila kita renungkan, ibadah puasa dilihat dari aspek psikhologis,  merupakan pendidikan karakter individual, sementara dari aspek sosiologis, sebagai pendidikan karakter masyarakat. Karena itu, berpuasa bukan hanya bermakna dalam tataran eksklusivisme tetapi juga dalam tataran inklusivisme.

Berangkat dari pemahaman tersebut, maka pengertian ibadah puasa bukan berarti sekadar menahan lapar dan dahaga serta tidak melakukan hubungan suami istri di siang hari, dan melaksanakan ritual ibadah pada malam harinya. Ibadah puasa juga mengacu pada kewajiban sosial. Oleh karena itu, orang yang sedang menjalankan ibadah puasa tidak hanya dilarang makan dan minum di siang hari, tetapi juga dilarang melakukan perbuatan-perbuatan dan prasangka yang buruk. Allah telah mengingatkan kita agar menjauhkan prasangka, mencari-cari kesalahan serta mempergunjingkan maupun mengolok-olok orang lain, karena mereka yang kita pergunjingkan atau olok-olok itu, belum tentu lebih buruk daripada kita yang mengolok-olok   ( Al-Hujurat ayat:12-13), juga melakukan tindakan kekerasan dan anarkisme.  

Terkait dengan pendidikan karakter bangsa, dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter termasuk juga pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kekerasan dan kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti demo yang berujung anarkis, perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan,  di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut  telah  sampai pada taraf yang sangat membahayakan dan meresahkan masyarakat. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pendidikan dan sosial, sebagai wadah pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian bangsa  melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.

  

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar yang dimiliki manusia, yakni bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar  memiliki cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri atas hal-hal berikut: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. 

Oleh karena itu, seharusnya kita memaknai berpuasa bukan hanya sekedar menjalani seremoni ritual ibadah, melainkan membuka harmoni dalam kehidupan diri, keluarga, dan lingkungan sehingga dalam berpuasa kita bukan hanya disibukkan oleh kegiatan ritual, tetapi juga transendental. Dalam berpuasa, kita tidak hanya ditantang agar mampu membangun individual change (perubahan pribadi) tetapi juga dituntut untuk menghasilkan social change (perubahan sosial) dengan mengantisipasi semua actual reality (realitas sosial) yang hadir di hadapan kita menuju hal-hal yang lebih baik menurut parameter agama Islam  yang kita anut. Dalam hal ini ibadah puasa merupakan pembelajaran secara holistik bagi upaya membangun keseimbangan antara duniawi dan ukhrowi. Dan muaranya adalah bagaimana kita bisa berperan untuk menyebarkan kasih bagi sesama (blessing for all). Yang ini selaras dengan misi Islam yang disebut-sebut sebagai rakhmatan lil alaamin. 

Bertolak dari pemahaman tersebut, maka puasa di bulan Ramadhan merupakan peluang emas bukan hanya dalam konteks ritual individual akan mendulang pahala, akan tetapi dalam konteks sosial kultural, juga merupakan kesempatan untuk mensosialisasikan kemuliaan ajaran Islam kepada sesama umat seiman maupun yang tidak seiman. Dan juga dalam bulan Ramadhan bukan kebencian dan rasa benar sendiri yang didengungkan , melainkan juga upaya untuk membangun ukhuwwah Islamiyah, ukhuwwah basyariyah, dan ukhuwwah wathoniyah, juga mencintai sesama, dan menghargai berbagai perbedaan yang ada. Sekali lagi, ibadah puasa merupakan pembelajaran yang bersifat multi dimensi, internal dan eksternal, dan bukan sekadar seremoni, karena tujuan akhir dari ibadah puasa sebagaimana yang tercantum dalam QS. Al Baqarah: 183, adalah membentuk manusia yang berkarakter ”Muttaqiin”.

 

Selamat menjalankan Ibadah Puasa.