Selamat Datang di Portal Informasi Akademik STAI PATI >> Alamat : Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Pati . // Selamat dan Sukses Atas diraihnya Akreditasi "B" BAN-PT Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam STAI PATI. // Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1439 H / 2018 M. Mohon Maaf Lahir dan Bathin

TAQWA: TUJUAN AKHIR PUASA

Mohammad Dzofir, M.Ag

Pengurus Yayasan Pendidikan Islam Pati

Tidak terasa kita telah memasuki hari-hari terakhir bulan suci Ramadhon,  bulan yang penuh barokah, rohmah dan dan maghfiroh. Di satu sisi kita merasa senang dan bahagia dengan akan berakhirnya bulan Romadhon. Senang bukan karena bebas dari beban beratnya berpuasa, atau bukan pula gembira karena kesempatan berpesta pora. Tetapi senang karena kita akan memasuki babak baru, yakni menjadi manusia yang fitri, manusia yang suci, bersih tanpa noda sama seperti saat kita dilahirkan dari rahim ibu. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, Sesungguhnya Allah mewajibkan atas kalian puasa Romadhon dan aku mensunnahkan qiyamul lail, barangsiapa yang berpuasa dan melakukan qiyamul lail karena mengharap ridho Allah swt maka keluarlah dosanya sebagaimana seperti saat ia baru dilahirkan dari kandungan ibunya.

Dalam hadis lain Rasulullah menyatakan bahwa barangsiapa berpuasa dengan berlandaskan keimanan dan mengharap ridho Allah maka akan dihapus seluruh dosa-dosanya.

Namun pada sisi yang lain kita juga merasa sedih dengan akan berlalunya bulan Ramadhan. Sedih karena kita akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh begitu banyak rahmat, keberkahan, serta pahala yang berlimpah yang telah disediakan Allah kepada kita dalam setiap aktifitas ibadah di bulan Ramadhan.

Ibadah puasa Ramadhan yang  kita jalani saat ini memang merupakan sarana pendidikan dan pembinaan yang komplit dan menyeluruh bagi kita, baik untuk pembinaan ruhiyah, jasadiyah, ijtima’iyah, khuluqiyah maupun jihadiyah.

Melalui proses pelatihan di bulan Ramadhan yang sangat berat, diharapkan kita akan kembali kepada fitrah dan menjadi orang yang bertaqwa.  Sebab memang tujuan akhir ibadah puasa Ramadhan tidak lain adalah terbentuknya muslim yang bertaqwa (la’allakum tattaquun). Bagaimana kita mengukur ketaqwaan ?

Dalam QS Ali Imron : 133, Allah memberikan indikator yang dapat kita jadikan sebagai tolok ukur untuk menilai derajat ketaqwaan, diantaranya : pertama, bersedia menginfakkan sebagian harta baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Orang yang bertaqwa akan senantiasa rajin dan ajek bersedekah, baik dalam situasi dan kondisi apapun. Bahkan dalam kondisi yang serba sulit, ia akan tetap berupaya untuk bersedekah. Karena itu bagi orang yang bertaqwa, perintah zakat tidak dianggap sebagai beban tapi justru disambut dengan kerelaan dan keikhlasan. Dengan senang hati ia akan berikan zakat fitrah sesuai dengan kualitas makanan yang dikonsumsinya sehari-hari, bukan makanan yang lebih rendah kualitasnya. Tidak hanya itu, dengan jujur ia akan hitung harta kekayaannya untuk dikeluarkan zakatnya, bukan mengakalinya agar terhindar dari kewajiban atas zakat harta bendanya.     

Kedua, mampu menahan amarah. Orang yang bertaqwa senantiasa dapat mengendalikan hawa nafsunya, termasuk nafsu amarah. Ia tidak akan mudah tersulut emosinya dan juga tidak mudah mengumbar nafsu amarahnya. Dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, ia lebih mengedepankan hati yang tenang dan memecahkannya dengan pertimbangan yang matang. Puasa telah menumbuhkan semangat jihad dalam diri kita untuk memerangi hawa nafsu kita dan berusaha mengikis dominasi hawa nafsu yang selalu membawa kita kepada perbutan menyimpang.

Ketiga, Memaafkan kesalahan orang lain. Orang yang bertaqwa adalah orang yang memiliki sikap legowo, ia mau dan mudah memberikan maaf terhadap kesalahan orang lain. Seberapa besar kesalahan orang lain kepadanya ia akan memberikan pintu maaf dan melupakan segala kesalahannya. Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang suka mendendam terhadap kesalahan orang lain.

Keempat, Sanggup bertobat atas segala dosa. Orang yang bertaqwa adalah orang yang ketika menyadari dirinya melakukan kesalahan atau maksiyat kepada Allah, ia bersegera memohon ampun kepada Allah, menyesali perbuatan dosa yang telah ia lakukan dan berjanji dengan sepenuh hati tidak akan mengulangi kembali. Nabi Muhammad saw. pernah bersabda setiap anak Adam pasti melakukan perbuatan salah atau dosa. Dan sebaik-baik pendosa adalah mereka yang mau bertobat.

Jika kesalahan atau perbuatan dosa harus berkaitan dengan individu yang lain, maka kita harus menyelesaikannya terlebih dahulu huququl adami, sebelum memohon ampun kepada Allah. Kita harus bersikap ksatria meminta maaf terhadap orang yang telah kita dholimi.

Oleh karena itu menjelang berakhirnya bulan Ramdhan, tidak sepatutnya kita maknai sebagai hari kemenangan yang harus dirayakan dengan berbagai persiapan  materi yang serba baru. Sebaliknya saat ini justru kita jadikan momentum yang tepat bagi kita untuk melakukan muhasabah terhadap diri kita. Apakah kita telah mencapai derajat ketaqwaan sebagaimana yang dijanjikan Allah ataukah masih jauh dari harapan. Jika belum kita masih memiliki kesempatan untuk membenahi dan memperbaiki diri kita, sehingga pada akhirnya kita dapat mencapai derajat ketaqwaan. Karena dengan ketaqwaan inilah kita akan memiliki bekal yang paling baik yang diperlukan oleh setiap manusia agar dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Wallaahu a’lam